Hukum Etika Internet

cyberlaw

Kode Etik
Dalam lingkup TI, kode etik profesinya memuat kajian ilmiah mengenai prinsip atau norma-norma dalam kaitan dengan hubungan antara professional atau developer TI dengan klien, antara para professional sendiri, antara organisasi profesi serta organisasi profesi dengan pemerintah. Salah satu bentuk hubungan seorang profesional dengan klien (pengguna jasa) misalnya pembuatan sebuah program aplikasi.
Seorang profesional tidak dapat membuat program semaunya, ada beberapa hal yang harus ia perhatikan seperti untuk apa program tersebut nantinyadigunakan oleh kliennya atau user; iadapat menjamin keamanan (security) sistem kerja program aplikasi tersebut dari pihak-pihak yang dapat mengacaukan sistem kerjanya(misalnya: hacker, cracker, dll).
Ada 3 hal pokok yang merupakan fungsi dari kode etik profesi: Continue reading Hukum Etika Internet

Pelanggaran Etika Penggunaan Internet

cybercrime

Kebutuhan akan teknologi Jaringan Komputer semakin meningkat. Selain sebagai media penyedia informasi, melalui Internet pula kegiatan komunitas komersial menjadi bagian terbesar, dan terpesat pertumbuhannya serta menembus berbagai batas Negara. Seiring dengan perkembangan internet dan umumnya dunia cyber tidak selamanya menghasilkan hal-hal yang positif. Salah satu hal negatif yang merupakan efek sampingannya antara lain adalah kejahatan di dunia cyber atau cybercrime. Dan Kode etik yang mengikat semua anggota profesi perlu ditetapkan bersama. Tanpa kode etik, maka setia individu dalam satu komunitas akan memiliki tingkah laku yang berdeda beda yang nilai baik menurut anggapanya dalam berinteraksi dengan masyarakat lainnya. Tidak dapat dibayangkan betapa kacaunya apabila setiap orang dibiarkan dengan bebas menentukan mana yang baik mana yang buruk menurut kepentingannya masing – masing, atau menipu dan berbohong dianggap perbuatan baik, atau setiap orang diberikan kebebasan untuk berkendaraan di sebelah kiri dan kanan sesuai keinginanya. Oleh karena itu nilai etika atau kode etik diperlukan oleh masyarakat, organisasi, bahkan negara agar semua berjalan dengan tertib, lancar dan teratur.

Contoh Kasus Cybercrime
Komputer di gedung DPR disusupi situs porno. Sebuah alamat situs porno lengkap dengan tampilan gambar-gambar asusilanya tiba-tiba muncul di layar informasi kegiatan DPR yang diletakkan di depan ruang wartawan DPR, Senayan, Jakarta, Senin (2/8). Situs http://www.dpr.go.id berubah menjadi http://www.tube8.com dan situs porno itu tampil lebih kurang selama 15 menit, tanpa bisa ditutup ataupun dimatikan. “Wiiih gile…kok bisa muncul,” kata salah seorang wartawan yang melihat gambar-gambar asusila tersebut. Puluhan wartawan yang sedang melakukan peliputan di gedung DPR kemudian serentak mengerumuni. Beberapa terlihat tertawa dan berteriak-teriak setelah melihat gambar-gambar asusila yang silih berganti itu. Pada saat yang sama, wartawan foto juga terus sibuk mengabadikan peristiwa langka di gedung wakil rakyat tersebut. Munculnya situs porno kemudian menjadi perhatian tidak hanya para wartawan, tetapi juga para pengunjung dan tamu dewan. Sementara Kabag Pemberitaan DPR, Suratna, terlihat panik dan berusaha untuk menutup situs penyusup tersebut. Namun demikian, alamat situs porno itu tetap tak bisa dimatikan. Justru, gambar yang tadinya kecil lama-kelamaan makin besar dan nyaris memenuhi layar monitor. Semua usaha yang dilakukan tak berbuah, tiba-tiba sekitar 15 menit kemudian gambar tersebut hilang dengan sendirinya.

 Sumber

Etika Profesi Non Formal Tukang Ojek

ojek

Tukang ojek merupakan suatu profesi pekerjaan yang bersifat non formal. Sebagai seorang tukang ojek, maka ia akan mencari pelanggan. Untuk mencari pelanggan, umumnya seorang tukang ojek akan membentuk / memilih tempat mangkal ditempat yang ramai penumpang.

Dalam sebuah pangkalan, umumnya memiliki etika maupun tata cara masing – masing dalam pelaksanaan. Pada tulisan ini, penulis mencoba mensurvei untuk pangkalan ojek di daerah Jl. Mekarsari. Pada pangkalan ini, umumnya mereka menggunakan urutan parkir motor dalam mengangkut penumpang sehingga tidak menimbulkan perselisihan dalam pencarian penumpang. Selain untuk tata cara pencarian penumpang, pada pangkalan ini juga dilakukan penarikan iuran yang kemudian digunakan untuk pembuatan atribut pendukung sebagai identitas anggota pangkalan tersebut. Atribut yang digunakan biasanya jaket yang terdapat tulisan area pangkalan. Iuran yang dikenakan sebesar Rp 5.000,00 per bulan. Karena dengan iuran tersebut diharapkan tidak memberatkan setiap anggota yang tersedia di pangkalan tersebut. Untuk saat ini pangkalan tersebut terdapat jumlah anggota sebanyak 15 orang. Untuk menjadi anggota baru di tempat tersebut, cukup mengeluarkan biaya pembuatan jaket anggota pangkalan.