Perkembangan Usaha UKM yang Maju

Kajian Pembinaan, Pengembangan dan Pengawasan UKM Binaan PT Sucofindo

Saat ini, di Indonesia terdapat 41.301.263 usaha kecil (UK) dan 361.052 usaha menengah (UM). Kedua usaha tersebut atau dikenal sebagai Usaha Kecil Menengah (UKM) yang berjumlah 99,9% dari total jumlah usaha yang ada di Indonesia. UKM tersebut bergerak di berbagai sektor ekonomi (pertanian, perikanan, peternakan, industri, perdagangan dan jasa). UKM juga dapat dikelompokan atas klasifikasi pra usaha, usaha berjalan dan usaha maju. Oleh karena itu, adanya upaya pemetaan/klaster potensi UKM binaan sesuai dengan kondisi wilayah/administratif, potensi sumber daya (komoditas) dan unit bisnisnya (sentra produksi dan kelompok) dapat dijadikan suatu indikator dan tolok ukur bagi pembinaan, pengembangan dan pengawasannya, agar menjadi tulang punggung dan memperkokoh struktur perekonomian nasional.

Pada kajian ini akan dilakukan penilaian, baik berupa pengamatan langsung maupun analisa data yang telah tersedia untuk merumuskan potensi UKM menurut sektor ekonomi yang dinilai prospektif dan layak secara bisnis, di antaranya industri pengolahan dan jasa yang berada di daerah Propinsi Jakarta (Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan Jakarta Barat) dan Propinsi Jawa Barat (Bogor, Depok dan Bekasi) atau keduanya dikenal dengan nama Jabodebek berdasarkan pendekatan klaster sebagai upaya pengembangan dan pertumbuhan ekonomi setempat yang melibatkan banyak pelaku. Sebagai ilustrasi, ditemui UKM yang mampu memproduksi barang bermutu ekspor furniture dan kerajinan, serta tantangan di pasar domestik akibat banjirnya produk impor murah dan barang selundupan.

Tujuan kajian : (1) mengidentifikasi potensi UKM binaan sesuai dengan informasi usaha (misal, bidang usaha, alamat, perijinan, pasar, modal, produk, teknologi dan kemitraan) dan permasalahan yang dihadapi; (2) menyusun database UKM binaan terpilih dalam bentuk profil statistik (misal, aset, jumlah tenaga kerja, jenis produk, teknologi yang digunakan, omzet dan networking) yang relevan dengan keperluan pembinaan, pengembangan dan pengawasan (indikator sukses dan kritis) dan (3) mengembangkan model baku atau alternatif pembinaan, pengembangan dan pengawasan UKM binaan sukses dengan pola klaster potensial (basis pengembangan) yang sesuai dengan situasi dan kondisi daerah, serta sektor ekonominya.

Pada kajian ini digunakan teknik : (1) desk research bersumber dari data sekunder UKM binaan PT. Sucofindo maupun literatur tentang UKM terkait dengan kajian yang dilakukan; (2) survei singkat ke lokasi UKM binaan terpilih dari hasil butir (1) secara purposif untuk mendapatkan data primer sebagai suatu kegiatan verifikasi yang didukung alat bantu kuesioner setengah terstruktur. Penganalisaan data dilakukan secara deskriptif, baik kualitatif dan kuantitatif.

PT Sucofindo memiliki total binaan sekitar 305 UKMK yang bergerak di 6 (enam) sektor ekonomi (pertanian, perikanan, peternakan, industri, perdagangan dan jasa), serta tersebar di 8 (delapan) daerah (Bekasi, Bogor, Depok, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan). Dari total binaan tersebut diambil contoh sebagai upaya verifikasi dan validasi model yang dibangun penentuan responden dilakukan secara purposif berdasarkan daerah, sektor dan bidang usaha, disamping atas dasar kriteria pengembalian pinjaman (KL = kurang lancar, L = lancar, M = macet dan LN = lunas).

Dari kondisi ketenagakerjaan, UKM memiliki 3-76 orang dan tingkat pendidikan yang bervariasi (SD-PT).Hasil khusus dari identifikasi UKM binaan secara umum :

1.   UKM Binaan di Jakarta Utara, belum menerapkan promosi pada kegiatan pemasaran produk/jasa, dengan alasan belum diperlukan, mengingat jangkauan pemasaran hanya di lingkungan sekitarnya. Hal lainnya : (a) menyatakan bahwa lokasi usahanya strategik, mengingat konsumen berada di wilayah yang sama; (b) omzet usaha krupuk tahu dan bebek goreng per hari Rp 240.000 dan Rp 300.000, sedangkan untuk koperasi yang merupakan usaha simpan pinjam untuk anggota Rp 7.800.000 per hari; (c) Sumber pendanaan usaha didapatkan dari PT. Sucofindo, karena persyaratannya lunak (tanpa agunan) dan untuk Koperasi memperoleh dana dari pihak lain (Bank Syariah Mandiri).

2.   UKM Binaan di Jakarta Timur, belum menerapkan promosi pada kegiatan pemasaran produk/jasa, dengan alasan belum diperlukan, mengingat jangkauan pemasaran hanya di lingkungan sekitarnya, kecuali  usaha Garmen yang memiliki kapasitas produksi relatif besar. Hal lainnya : (a) lokasi usahanya strategik, mengingat konsumen berada di wilayah yang sama, kecuali Usaha Garmen yang menyatakan lokasi usahanya kurang strategik (tidak berada di pinggir jalan), karena tidak langsung terlihat oleh konsumen; (b) omzet per hari  responden UKM bervariasi; (c) sumber pendanaan UKM didapatkan dari PT. Sucofindo, yaitu Rp 20.000.000 – Rp 60.000.000.

3.   UKM Binaan di Jakarta Pusat, sudah menerapkan promosi pada kegiatan pemasaran produk/jasa, dengan alasan meningkatkan omzet, kecuali Koperasi simpan pinjam yang konsumennya adalah anggota koperasi. Hal lainnya : (a) lokasi usahanya strategik, mengingat konsumen berada di wilayah yang sama, kecuali Usaha Barang kulit menyatakan lokasi usahanya kurang strategik (tidak memiliki outlet) untuk menjual hasil produksinya, karena tidak langsung terlihat oleh konsumen; (b) omzet per hari  responden UKM bervariasi; (c) sumber pendanaan UKM didapatkan dari PT. Sucofindo, tetapi Koperasi Karyawan Garnizun dan Industri Barang Kulit juga memperoleh pinjaman dari Bank Muamalat dan Bank NISP.

4.   UKM Binaan di Jakarta Selatan, sudah menerapkan promosi pada kegiatan pemasaran produk/jasa, dengan alasan meningkatkan omzet, kecuali Usaha Rumah Makan dan Konveksi, karena menganggap pelanggan ”loyal” terhadap produk yang dihasilkannya. Hal lainnya : (a) menyatakan bahwa lokasi usahanya strategik, mengingat konsumen berada di wilayah yang sama, kecuali Usaha Rumah makan Betawi dan Si Uma Flowers menyatakan lokasi usahanya kurang strategik (tidak berada di pinggir jalan raya), karena tidak dapat langsung terlihat oleh konsumen; (b) omzet per hari  responden UKM bervariasi; (c) sumber pendanaan usaha didapatkan dari PT. Sucofindo.

5.   UKM Binaan di Jakarta Barat, secara umum sudah menerapkan promosi pada kegiatan pemasaran produk/jasa, dengan alasan meningkatkan omzet, kecuali Usaha Bengkel Motor dan Industri Pakaian, karena menganggap pelanggan ”loyal” terhadap produk yang dihasilkannya. Hal lainnya : (a) lokasi usahanya strategik, mengingat konsumen berada di wilayah yang sama, kecuali Usaha Celana pria menyatakan lokasi usahanya tidak strategik (tidak di pinggir jalan raya), karena tidak dapat langsung terlihat oleh konsumen; (b) omzet per hari  responden UKM bervariasi; (c) sumber pendanaan usaha didapatkan dari PT. Sucofindo.

6.   UKM Binaan di Bogor, belum menerapkan promosi pada kegiatan pemasaran produk/jasa, dengan alasan penjualan masih di sekitar lokasi usaha bersangkutan. Hal lainnya : (a) lokasi usahanya strategik, mengingat konsumen berada di wilayah yang sama dan kegiatan dilakukan di rumah tinggal; (b) omzet per hari responden UKM bervariasi; (c) sumber pendanaan usaha didapatkan dari PT. Sucofindo.

7.   UKM Binaan di Depok belum menerapkan promosi pada kegiatan pemasaran produk/jasa, dengan alasan penjualan masih di sekitar lokasi usaha bersangkutan. Hal lainnya : (a) lokasi usahanya strategik, mengingat konsumen berada di wilayah yang sama; (b) omzet per hari  responden UKM bervariasi; (c) sumber pendanaan usaha didapatkan dari PT. Sucofindo.

8.   UKM Binaan di Bekasi belum menerapkan promosi pada kegiatan pemasaran produk/jasa, dengan alasan belum diperlukan, mengingat jangkauan pemasaran hanya di lingkungan sekitarnya. Promosi sederhana dengan brosur dilakukan oleh Toko Ali. Hal lainnya : (a) lokasi usahanya strategik, mengingat konsumen berada di wilayah yang sama, kecuali Usaha Logam yang lokasi usahanya kurang strategik (usaha tidak berada di pinggir jalan), karena tidak langsung terlihat oleh konsumen; (b) omzet per hari responden UKM bervariasi; (c) sumber pendanaan UKM didapatkan dari PT. Sucofindo, kecuali Koperasi dan Industri Plat yang juga memperoleh pinjaman dari Bank Bukopin dan Bank Mandiri.

Untuk mendukung faktor temuan kondisi usaha dari UKM binaan, maka dilakukan  analisis deskriptif dari UKM binaan di PT. Sucofindo. Dari 305 UKM binaan menurut database PT. Sucofindo di delapan (8) daerah kajian, didapatkan urutan sebaran sektor usaha, yaitu industri (41,6%), jasa (28,9%), perdagangan (23,5%), perikanan (2,9%) dan peternakan (2,7%).  Sedangkan dari obyek kajian, didapatkan 49 UKM binaan, dengan urutan sebaran sektor usaha seperti industri (44,9%), perdagangan (24,5%), jasa (18,4%), perikanan dan peternakan masing-masing 6,1%. Berdasarkan data terakhir, dapat dikembangkan penilaian cepat untuk kemudahan pembinaan, pengembangan dan pengawasan UKM binaan berdasarkan kelayakan sektor usaha beserta status pengembalian pinjaman.  Kelayakan sektor usaha dari UKM  di suatu daerah dapat dijadikan dasar penentuan untuk melakukan pembinaan, pengembangan dan pengawasan UKM binaan dengan memperhatikan indikator kinerja usaha (misal, omzet) yang didukung oleh indikator penggerak usaha seperti modal kerja dan investasi.  Hal tersebut nantinya sangat membantu di dalam penetapan status pengembalian pinjaman UKM binaan kepada PT. Sucofindo.

Keberhasilan implementasi dari pembinaan, pengembangan dan pengawasan UKM  binaan oleh PT. Sucofindo yang menghasilkan UKM prospektif dan layak secara bisnis perlu memperhatikan pendekatan sistem yang disusun oleh indikator seperti masukan (jenis UKM, sumber modal, produksi, SDM, kemitraan dan pemasaran), lingkungan (globalisasi ekonomi, kebijakan pemerintah, otonomi daerah dan iklim usaha), proses (model pembinaan, pengembangan dan pengawasan), luaran (mutu produk UKM, kontribusi pembangunan, pelunasan kredit, peningkatan skala usaha UKM dan peningkatan SDM UKM) dan umpan balik (manajemen pembinaan, pengembangan dan pengawasan UKM, serta keberpihakan pemerintah). Untuk itu, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah :

1)   Pengelompokkan administratif UKM binaan atas status usaha (pra usaha, sedang berjalan/tumbuh dan maju) yang terkait dengan legalitas usaha (Perorangan, Koperasi, CV dan PT), sektor usaha (industri, perdagangan, jasa, perikanan dan peternakan) dan bantuan yang diberikan (modal kerja atau investasi dan kedua-duanya, serta hibah).

2)   Penanganan secara proporsional terhadap faktor-faktor pengembangan usaha (pemasaran, permodalan, produksi, SDM, kemitraan) dan dampak terhadap pembangunan (penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan asli daerah atau PAD).  Dalam hal ini yang perlu ditangani adalah (a) peningkatan permodalan yang menyangkut modal kerja dan investasi sesuai kebutuhan dan indikator kinerja usaha yang disertai dengan mekanisme penyaluran dan pengawasan konsisten dan berkelanjutan, agar UKM binaan yang sebelumnya tidak bankable menjadi bankable sesuai prinsip 5C (character, capacity, capital, condition of economic dan collateral), agar mampu membesarkan  usahanya; (b) peningkatan SDM yang berhubungan dengan penguasaan pencatatan keuangan (pembukuan atau laporan keuangan sesuai akutansi), keterampilan teknis terkait peningkatan mutu produk (standarisasi) dan penggunaan teknologi produksi yang lebih maju; (c) peningkatan kemampuan pemasaran yang membantu UKM melalui kemitraan dengan pelaku usaha yang lebih maju dan sukses.

Dari uraian deskripsi UKM binaan atau informasi usaha (nama UKM, sektor usaha, bidang usaha, kepemilikan, status kredit, omzet per hari, modal kerja dan investasi); fakor-faktor penentu dalam pembinaan, pengembangan dan pengawasan UKM (pemasaran, permodalan, produksi, SDM, kemitraan dan kontribusi terhadap pembangunan); kelayakan sektor usaha (indikator kinerja usaha dan indikator penggerak usaha); status pengembalian pinjaman (lancar, macet dan koefisien pengembalian pinjaman atau KPP) dan model konseptual pembinaan, pengembangan dan pengawasan UKM, selanjutnya dapat disusun suatu model umum atau generik dari pembinaan, pengembangan dan pengawasan UKM binaan

Untuk menindaklanjuti model umum yang terdiri dari model konseptual, terutama model operasional pembinaan, pengembangan dan pengawasan UKM binaan sebagai suatu perangkat kebijakan pengembangan terpadu dan fokus yang sistematik dan terarah, maka perlu dilakukan langkah-langkah :

1)   Pengelompokan (klaster) potensial UKM binaan atas kategori padat sumber daya alam (misal, produksi berbasis bahan baku yang dapat diperbaharui seperti pertanian, perikanan, peternakan dan kehutanan) untuk yang berada di pinggiran kota atau padat tenaga kerja (misal, produksi berbasis teknologi proses sederhana) untuk yang berada di pusat kota, menurut fase usahanya, baik pra usaha, usaha berjalan dan usaha maju, dengan tanpa membatasi geografis keberadaannya.  Pengelompokan ini dapat membantu peningkatan kinerja dan membenahi struktur UKM binaan yang masih lemah, melalui penataan skala usaha, peningkatan kapasitas produksi, kegiatan bersama dalam wadah asosiasi (khususnya promosi dan penelitian), penciptaan lingkungan kondusif dan pembentukan jaringan yang mampu menghasilkan nilai tambah dari usaha inti, usaha pendukung dan usaha terkait yang saling berhubungan intensif.

2)   Pengelompokan bentuk pembinaan teknis dan berbasis kompetensi menurut fase usahanya, misal untuk UKM binaan pra usaha diberikan kemampuan manajerial dan administrasi, pelatihan dan konsultasi temporer; usaha berjalan diberikan kemampuan manajerial dan administrasi, teknis, perdagangan dan konsultasi teknis permanen; dan usaha berjalan diberikan kemampuan komunikasi interpersonal dan berasosiasi, manajerial dan administrasi, permagangan dan konsultasi teknis permanen.  Pengelompokan ini dapat membantu peningkatan daya saing dan sekaligus daya tahan melalui pembentukan mata rantai nilai tambah yang melibatkan  banyak pelaku usaha, baik dari usaha terhubung maupun berdekatan geografis.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s