Bedanya Menulis Zaman Dulu dan Sekarang

Betapa mudahnya kita mengeluarkan buku dan mulai menulis di atas kertas. Kamu tahu, orang zaman dulu tidak semudah itu untuk mencatat.

Pakai Lontar, Bukan Kertas

Dulu, orang-orang menulis di atas daun lontar. Daun lontar itu adalah daun pohon siwalan. Kamu tahu buah siwalan? Buah itu banyak dijual di gerobak-gerobak di pasar. Buahnya warna cokelat tua. Daging buahnya putih dan rasanya mirip nata de coco. Nah, daunnya itu dipetik, dijemur, direbus supaya awet, dan dikeringkan untuk menjadi selembar kertas. Prosesnya panjang sekali sampai daun lontar itu bisa ditulisi. Mereka menyebut per lembar lontar itu sebagai lempir . Mengukir aksara di atas lontar dengan pengropak.

Pakai Pengropak , Bukan Pena

Nah, setelah lempir-lempir lontar siap, keluarkan pena! Eh… salah! Zaman dahulu belum ada pena. Untuk menulis di atas lontar, kita perlu pengropak. Bentuknya malah seperti pisau ukir. Sama sekali tidak ada mata penanya, apalagi tinta.

Mengukir, Bukan Menulis

Yap, zaman dulu orang tidak menulis. Mereka mengukir aksara di atas lempir  lontar dengan pengropak . Tentu aksaranya beda juga dengan aksara zaman sekarang. Mereka memakai aksara kuno sesuai bahasa tempat mereka menulis. Misalnya, Bali kuno, Jawa kuno, dan lain-lain. Setelah selesai mengukir semua yang ingin disampaikan di atas lempir lontar, mereka menghitamkan lempir dengan jelaga kemiri! Aiih belepotan, deh, jadinya. Hitam-hitam semua. Tak ada kemiri, pakai arang juga bisa. Setelah itu, dengan minyak sereh, lempir  lontar dilap. Wooow ajaib! Jelaga kemiri itu menempel di dalam ceruk ukiran aksara, sementara jelaga di luar ukiran-ukiran aksara itu terlap bersih. Jadi, deh, aksara-aksara itu terpampang jelas, terukir rapi di atas lempir lontar.  

Menambah Ukiran, Bukan Menghapus

Namanya juga manusia, pasti pernah salah tulis. Kalau sekarang, sih, enak. Kalau salah, tinggal kita hapus atau olesi tip-ex . Bagaimana jika di atas lempir  lontar? Kita mencoret huruf yang salah dan mengukir huruf yang benar di atas huruf yang salah. Fiuuhh… coba banyakan, kalau setiap kali harus mencatat, kita harus mengukir aksara di atas lempir lontar. Orang zaman dulu sabar-sabar, ya!

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s