Karangan Bebas

cerpen orchad

 

Jam enam sore. Entah mengapa susana hari itu kelihatan lengang. Biasanya selalu diisi dengan pertengkaran perempuan tua dengan suaminya karena masalah celana dalam suaminya sering dipake oleh perempuan tua itu, ditambah lagi kucing hitam yang selalu mengeong karena tenggorokannya masih tertusuk tulang ikan yang kemudian sering dipukuli oleh anak kecil dengan kaleng susu tempat ia menggulungkan benang layangan, hingga bunyinya membuat berisik tetangga. Hari itu bukan hari yang selalu menghiasi kampung pinggir kota. Seorang laki paru baya, tetap terdiam dibalik jendela kayu yang terbuat dari akasia yang mulai rapuh dimakan rayap. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, kulitnya kelam karena matahari terus memangganginya. Matanya bersinar kecoklatan, namun ia tidak terlalu memikirkan keindahan matanya itu, seperti orang lain yang selalu mengidentikkan mata coklat dengan bule. Sebenarnya wajahnya tampan, karena tidak terurus, wajah itu makin hari makin kusam, ditambah lagi rambutnya yang sedikit galing nampak kusut semrawut, seperti hatinya yang lagi kisruh. Matanya terpusat pada sebuah benda, entah apa yang sedang ia pikirkan. Dia bak patung yang menginginkan nyawanya kembali.

Krik…krik…krik… suara jangkrik terus memekakan telinga seolah malam mengundangnya berpesta selepas hujan tadi. Dia masih terpaku melawan angin yang terasa makin dingin merasuki kulit hingga menusuk ke tulang belulangnya.
“Aaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkkkkkkkhhhhhhhhhhhhh”,
Rambutnya dijabakinya seakan galau memaksa untuk mengikuti permainannya. Dia tak hiraukan orang lain yang melihatnya sekalipun itu
kelelawar. Mulutnya sedikit menganga, ia masih tetap diam. Malampun merobek lembayung yang malu-malu mengundurkan diri. Entah apa yang membuat ia tergugah dari lamunannya, mungkin bosan telah pergi dari ilusinya. Ia melangkah sambil menutup jendela itu. Ruangan itu gelap. Sebentar ia terdiam. Ah…, lampunya menyala setelah ia meng-on dan off-kannya berulang kali. Ruangan itu menjadi terang. Di sudut kanannya, sebuah ranjang tua bertengger di sana, tempat ia menghilangkan kepenatan dan mencurahkan kegundahan hatinya sampai bantalnya memperlihatkan jejak air mata yang selalu ia linangkan. Di dekatnya, meja multi fungsi tempat ia belajar, berkarya, bahkan mengupil sampai upilnya hampir memenuhi balik taplak meja itu. Ruangan itu semakin sesak dan sesak saja. Dia berbaring dalam renungnya
akan hidup yang semakin menjalar diotaknya. Lampu kota pun padam, ada pohon plamboyan yang tumbang menimpa gardu listrik.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s